Asessmen Pendidikan Inklusi di SMPN 9 Cimahi

Assalamualaikum Wr Wb

Pendidikan adalah hak setiap manusia, termasuk siswa dengan kebutuhan khusus. Pendidikan bertujuan untuk memberikan bekal agar setiap insan memiliki masa depan dengan kualitas hidup yang baik, bagaimanapun bentuknya. Pendidikan seharusnya dapat dijangkau oleh setiap insan, tidak ditentukan oleh latar belakang keluarga, sosial, maupun ekonomi. Untuk itu tentunya perlu berbagai perubahan dalam sistem, agar terjadi pendidikan ideal bagi semua siswa.

Kesadaran akan semangat pemerataan pendidikan ini tampaknya sudah mulai tertanam di lingkungan Pendidikan, dan akan menjadi sempurna bila diikuti oleh pelaksanaan di lapangan secara tepat guna.

Ketidaktahuan pihak sekolah berkaitan pula dengan keberanian masing-masing sekolah untuk melakukan modifikasi demi tercapainya tujuan pendidikan yang berbeda bagi setiap siswa. Mengacu pada kebutuhan yang beragam, tentunya bijak menetapkan tujuan pendidikan yang beragam, agar kebutuhan tersebut terjawab. Sekolah yang berani  memberikan jawaban atas beragam kebutuhan, akan berani melakukan modifikasi pada kurikulum, sehingga anak tetap belajar efektif tanpa harus mengorbankan berbagai tahap perkembangan lainnya.

Siswa Inklusi

Peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosinal, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa perlu mendapakan layanan pendidikan  yang sesuai dengan kebutuhan dan hak asasinya.

Pembelajaran dalam Seting Inklusi

Pengorganisasian/penciptaan/pengaturan kondisi lingkungan yg sebaik-baiknya utk memungkinkan terjadinya peristiwa belajar pada peserta didik sesuai dengan kebutuhannya

Sekolah Inklusi

adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar siswa-siswanya berhasil. Lebih dari itu, sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima menjadi bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi.

Berbicara mengenai pendidikan, pemerintah sudah mencanangkan agar semua sekolah memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk bergabung dalam bentuk pendidikan inklusi. Permasalahannya adalah, apakah kemudian penanganan berhenti pada masalah penerimaan saja? Tentu saja tidak. Agaknya sudah menjadi pengetahuan umum bahwa pencanangan aturan harus ditindaklanjuti dengan pelatihan kepada sumber daya manusia terkait, khususnya para guru di kelas. Pelatihan bukan saja mengenai bagaimana mengupayakan proses belajar mengajar yang optimal, tetapi bagaimana menjembatani masalah hambatan komunikasi, ataupun penanganan masalah perilaku yang mungkin saja terjadi di kelas. Para guru juga harus tahu bahwa masalah bullying merupakan masalah nyata dan serius, serta bahwa para siswa ini harus diberi bekal untuk berbaur dengan masyarakat, bukan sekedar memenuhi target belajar di kelas saja. Penggunaan alat bantu apa yang efektif agar siswa memahami konsep abstrak dengan baik, serta bagaimana memastikan ilmu yang diperoleh dapat digeneralisasikan di lingkungan kehidupan sekitar. Intinya, para guru harus belajar lagi.

Selain pelatihan keterampilan penanganan anak berkebutuhan khusus kepada para guru, penting juga memberikan pengertian kepada sekolah bahwa ada beberapa jenis inklusi. Tidak semua siswa dapat menjalani sistim ‘full inclusion’, dan untuk itu ada baiknya mempertimbangkan penanganan sistim ‘partial inclusion’ maupun ‘social mainstream’.. Fakta di lapangan membuktikan bahwa pihak sekolah belum semua paham mengenai adanya berbagai konsep inklusi tersebut, sehingga juga tidak paham bahwa kebutuhan siswa yang beragam dapat terjawab oleh jenis pelayanan yang berbeda pula. (Dra. Dyah Puspita, MSi – psikolog)

Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus di SMPN 9 Cimahi

Kerangka Prosedur Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus

  1. Identifikasi Peserta Didik dengan Assesmen
  2. Program Pembelajaran Individual
  3. Dokumen KompetensiPend Inklusi 3

Identifikasi Peserta Didik dengan Assesmen

Untuk mengetahui jenis anak berkebutuhan khusus ini maka kita memerlukan alat/kegiatan, sehingga kita mendapatkan catatan/data. pengumpulan informasi kondisi peserta didik; analisis kebutuhan  (kompetensi dasar dan kemampuan PDBK)

Tujuannya untuk mengetahui : Kemampuan, Hambatan, Bakat  dan, Minat, Kebutuhan peserta didik sehingga dapat menyusun kurikulum dan program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Program Pembelajaran Individual

Setelah diketahui jenis ABK siswa, maka mengupayakan jenis penanganan terhadap anak tersebut, sehingga dapat mempunyai bekal untuk pelaksanaan pembelajaran, seperti : Bagaimana dengan para siswa yang tidak mampu bicara, meski mampu berkomunikasi dan memiliki kecerdasan rata-rata? Bagaimana dengan para siswa yang memiliki gangguan sensoris sehingga tidak dapat menjalani pendidikan di sekolah karena terganggu oleh bisingnya suara siswa lain? dsb.Proses pembelajaran berkaitan dengan kegiatan yang harus dilaksanakan oleh peserta didik, guru dan komponen lainnya, supaya dapat menguasai kompetensi yang diharapkan (PBM).

Dokumen Kompetensi

Kemampuan awal siswa, proses pembelajaran dan hasil pembelajaran di dokumentasikan oleh wali kelas, juga BP/BK.

  • Evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui keberhasilan peserta didik dalam mencapai tujuan atau kompetensi yang telah ditetapkan.
  • Proses evaluasi berkaitan dengan lima hal:

–     Waktu, Isi, Cara, Tempat dan Alat artinya evaluasi dimodifikasi sesuai dengan jenis ABK

Untuk kelancaran hal tersebut maka pada hari Rabu, 14 Mei 2014 di SMPN 9 Cimahi, kami mengundang/bekerja sama dengan pakar pendidikan inklusi dari UPI untuk mengadakan Assesmen pada anak berkebutuhan khusus.

Dalam penanganan siswa tersebut maka guru perlu mendapat pelatihan/melihat proses Asesmen, adapun yang mendapat kesempatan untuk menghadiri kegiatan tersebut, Wali kelas dan guru pengajar anak ABK didampingi oleh wakasek kurikulum dan BP/BK.

Pend Inklusi 1

Peserta yang hadir saat itu :

Pakar Pendidikan Inklusi dari UPI,

Dra Sri Rahayu,MM (Wakasek Kurikulum)

Siti Ummi Khotimah,SPd (Koordinator BK)

Dini Huriani,SPd (BP/BK)

Dra Hj Eutik Unangsih

Wiwi Sriwidiawati,SPd

Rosdiyani,SPd

Lilis Kurniasih,SPd

Dra Siti Warindah

Elly Mariam,SPd

Rina Wulansari,SPd

An An Supriani,SPd

Darsih,SAg

Dra Sri Astuti

Sri Widayati,SPd

M.Nurhadimas,Indra Anugrah Rokandi,Muhammad Rizal Faturrohman,Sandy Fadian Fadhilah,Herdhiana Risnandi.

Foto Kegiatan Asessmen Pendidikan Inklusif SMPN 9 Cimahi

Pend Inklusi 6

.

Pend Inklusi 4

 

.

Pend Inklusi 5

 

.

Pend Inklusi 2

Pendidikan Inklusif

Landasan filosofis utama penerapan pendidikan inklusif di Indonesia adalah Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi yang lebih mendasar lagi, yang disebut Bhineka Tunggal Ika (Mulyono Abdulrahman, 2003). Filsafat ini sebagai wujud pengakuan kebhinekaan manusia, baik kebhinnekaan vertical maupun horizontal, yang mengemban misi tunggal sebagai makhlukAllah SWT. Kebhinekaan vertikal ditandai dengan perbedaan kecerdasan, kekuatan fisik, kemampuan finansial, kepangkatan, kemampuan pengendalian diri, dsb. Sedangkan kebhinekaan horisontal diwarnai dengan perbedaan suku bangsa, ras, bahasa, budaya, agama, tempat tinggal, daerah, afiliasi politik, dsb.

Di dalam diri individu berkelainan pastilah dapat ditemukan keunggulan-keunggulan tertentu, sebaliknya di dalam diri individu berbakat pasti terdapat juga kecacatan tertentu, karena tidak hanya makhluk di bumi ini yang diciptakan sempurna. Kecacatan dan keunggulan tidak memisahkan peserta didik satu dengan lainnya, seperti halnya perbedaan suku, bahasa, budaya, atau agama. Hal ini harus diwujudkan dalam sistem pendidikan.

Sistem pendidikan harus memungkinkan terjadinya pergaulan dan interaksi antar siswa yang beragam, sehingga mendorong sikap silih asah, silih asih, dan silih asuh dengan semangat toleransi seperti halnya dalam kehidupan sehari-hari. Landasan yuridis internasional penerapan pendidikan inklusif adalah Deklarasi Salamanca (UNESCO, 1994) oleh para menteri pendidikan se-dunia. Deklarasi ini sebenarnya penegasan kembali atas Deklarasi PBB tentang HAM tahun 1948 dan berbagai deklarasi lajutan yang berujung pada Peraturan Standar PBB tahun 1993 tentang kesempatan yang sama bagi individu berkelainan memperoleh pendidikan sebagai bagian integral dari system pendidikan yang ada. Deklarasi Salamanca menekankan bahwa selama memungkinkan, semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka.

Sebagai bagian dari umat manusia yang mempunyai tata pergaulan internasional, Indonesia tidak dapat begitu saja mengabaikan deklarasi UNESCO tersebut di atas. Di Indonesia, penerapan pendidikan inklusif dijamin oleh Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang dalam penjelasannya menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan untuk peserta didik berkelainan atau memiliki kecerdasan luar biasa diselenggarakan secara inklusif atau berupa sekolah khusus. Teknis penyelenggaraannya tentunya akan diatur dalam bentuk peraturan.

Landasan Pedagogis pada pasal 3 Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003, disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab. Jadi, melalui pendidikan, peserta didik berkelainan dibentuk menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab, yaitu individu yang mampu menghargai perbedaan dan berpartisipasi dalam masyarakat. Pendidikan inklusi sesungguhnya bersifat fleksibel karena harus dikorelasikan dengan suatu keadaan. (edukasi kompasiana)

Tujuan penyelenggaraan pendidikan inklusi adalah :

1. memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan sosial atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya;

2. mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman, dan tidak diskriminatif bagi semua peserta didik.

Istilah anak berkebutuhan khusus tersebut bukan berarti menggantikan istilah anak penyandang cacat atau anak luar biasa tetapi memiliki cara pandang yang lebih luas dan positif terhadap anak didik atau anak yang memiliki kebutuhan yang beragam.

Pendidikan inklusi yang menghargai semua siswa dengan keunikan mereka masing-masing masih belum banyak dipahami dan dijalankan oleh pemerintah maupun sekolah.

Pendidikan inklusi   memberikan berbagai kegiatan dan pengalaman, sehingga semua siswa dapat berpartisipasi dan berhasil dalam kelas reguler yang ada di sekolah tetangga atau sekolah terdekat. Dengan demikian kehadiran pendidikan inklusi   berpotensi mampu memberikan kontribusi yang berarti bagi setiap anak dengan segala keragamannya, terutama anak berkebutuhan khusus.

Pendidikan inklusi   adalah sebuah proses pendidikan bagi semua anak. Hal ini melibatkan semua anak tanpa menghiraukan bagaimana kondisi siswa. Sehingga, penyesuaian pendidikan harus dirancang berdasarkan pada kebutuhan khusus dari semua anak. Pendidikan inklusi   mengandung konsekuensi bahwa dibutuhkan adanya perubahan di sekolah maupun di lembaga pendidikan lainnya.

Pertama, perubahan harus ditekankan lebih pada pengembangan kesadaran sosial, termasuk di dalamnya pengembangan kontak dan komunikasi di antara siswa.

Kedua, penyesuaian dari isi pembelajaran. dalam rangka menciptakan pendidikan yang lebih bermakna bagi setiap pribadi siswa mesti dilakukan secara baik.

Penyebab ABK

Penyebab seorang anak mengalami keterbelakangan mental ini disebabkan beberapa hal. Antara lain dari dalam dan dari luar. Jika dari dalam adalah karena faktor keturunan. Sedangkan dari luar memiliki banyak penyebab. Satu di antaranya karena kurangnya gizi ibu saat hamil. Ini biasanya terjadi pada ibu hamil yang tidak menjaga pola makan yang sehat, keracunan atau efek substansi. Hal tersebut bisa memicu kerusakan pada plasma inti, kerusakan pada otak waktu kelahiran.

Karakteristik ABK

Setiap anak berkebutuhan khusus tentu memiliki karakteristik sendiri-sendiri, bahkan sesama jenis kelainan pun pada dasarnya memiliki karakteristik yang berbeda. Setiap anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik (ciri-ciri) tertentu yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Untuk keperluan identifikasi, di bawah ini akan disebutkan ciri-ciri yang menonjol dari masing-masing jenis anak berkebutuhan khusus tersebut.

a. Tunanetra/anak yang mengalami gangguan penglihatan

  1. Tidak mampu melihat,
  2. Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter,
  3. Kerusakan nyata pada kedua bola mata,
  4. Sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan,
  5. Mengalami kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya,
  6. Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/besisik/kering,
  7. Peradangan hebat pada kedua bola mata,
  8. Mata bergoyang terus.

b. Tunarungu/anak yang mengalami gangguan pendengaran

  1. Tidak mampu mendengar,
  2. Terlambat perkembangan bahasa,
  3. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi,
  4. Kurang/tidak tanggap bila diajak bicara,
  5. Ucapan kata tidak jelas,
  6. Kualitas suara aneh/monoton,
  7. Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar,
  8. Banyak perhatian terhadap getaran,
  9. Keluar nanah dari kedua telinga,
  10. Terdapat kelainan organis telinga.

c. Tunadaksa/anak yang mengalami kelainan angota tubuh/gerakan

  1. Anggauta gerak tubuh kaku/lemah/lumpuh,
  2. Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur/tidak terkendali),
  3. Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/lebih kecil dari biasa,
  4. Terdapat cacat pada alat gerak,
  5. Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam,
  6. Kesulitan pada saat berdiri/berjalan/duduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal,
  7. Hiperaktif/tidak dapat tenang.

d. Anak Berbakat/anak yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa

  1. Membaca pada usia lebih muda,
  2. Membaca lebih cepat dan lebih banyak,
  3. Memiliki perbendaharaan kata yang luas,
  4. Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat,
  5. Mempunayi minat yang luas, juga terhadap masalah orang dewasa,
  6. Mempunyai inisiatif dan dapat berkeja sendiri,
  7. Menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal,
  8. Inisiasi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus
  9. Memberi jawaban-jawaban yang baik,
  10. Dapat memberikan banyak gagasan,
  11. Luwes dalam berpikir,
  12. Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan,
  13. Mempunyai pengamatan yang tajam,
  14. Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu panjang, terutama terhadap tugas atau bidang yang diminati,
  15. Berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri,
  16. Senang mencoba hal-hal baru,
  17. Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi,
  18. Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan-pemecahan masalah,
  19. Cepat menangkap hubungan sebabakibat,
  20. Berperilaku terarah pada tujuan,
  21. Mempunyai daya imajinasi yang kuat,
  22. Mempunyai banyak kegemaran (hobi),
  23. Mempunyai daya ingat yang kuat,
  24. Tidak cepat puas dengan prestasinya,
  25. Peka (sensitif) serta menggunakan firasat (intuisi),
  26. Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan.

e. Anak Tunagrahita

  1. Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/besar,
  2. Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia,
  3. Perkembangan bicara/bahasa terlambat,
  4. Tidak ada/kurang sekalai perhatiannya terhadap lingkungan (pandangan kosong),
  5. Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali),
  6. Sering keluar ludah (cairan) dari mulut (ngiler).

f. Anak lamban belajar (slow learner)

  1. Rata-rata prestasi belajarnya kurang dari 6,
  2. Dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibanding-kan teman-teman seusianya,
  3. Daya tangkap terhadap pelajaran lambat,
  4. Pernah tidak naik kelas.

g. Anak yang mengalami kesulitan belajar spesifik 

  •  Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia)
  1. Perkembangan kemampuan membaca terlambat,
  2. Kemampuan memahami isi bacaan rendah,
  3. Kalau membaca sering banyak kesalahan
  • Anak yang mengalami kesulitan belajar menulis (disgrafia)
  1. Kalau menyalin tulisan sering terlambat selesai,
  2. Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya,
  3. Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca,
  4. Tulisannya banyak salah/terbalik/huruf hilang,
  5. Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.
  • Anak yang mengalami kesulitan belajar berhitung (diskalkulia)
  1. Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, =
  2. Sulit mengoperasikan hitungan/bilangan,
  3. Sering salah membilang dengan urut,
  4. Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8, dan sebagainya,
  5. Sulit membedakan bangun-bangun geometri.

h. Anak yang mengalami autisme

  1. Tidak memiliki bahasa pada umumnya (bahasa planit).
  2. Mudah marah, mudah tertawa dalam satu waktu yang bersamaan (tantrum).
  3. Sulit menangkap isi pembicaraan orang lain,
  4. Tidak lancar dalam berbicaraan/mengemukakan ide,
  5. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi,

i. Tunalaras/anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku

  1. Bersikap membangkang,
  2. Mudah terangsang emosinya,
  3. Sering melakukan tindakan aggresif,
  4. Sering bertindak melanggar norma social/norma susila/hukum.

Tips :

  • Mulailah berfikir dari hal yang dapat dilakukan anak
  • Mulailah bekerja dengan anak dari apa yang dapat dilakukan anak
  • Mulailah berfikir kreatif untuk mengaitkan apa yang dapat dilakukan anak dengan apa yang harus dipelajari oleh anak

 

“Guru Sejati Melayani Anak”

“Mereka yang benar benar bahagia adalah mereka yang telah berupaya mencari dan menemukan bagaimana caranya melayani”

 

Satu Tanggapan

  1. Alhamdulillah, banyak sekali pengetahuan & info yg didapat melalui Informasi 9 ini.
    Trims bu Lilis, jgn pernah lelah memberikan informasi2 yg lainnya (berikutnya) kpd kami.🙂

    Salut utk SIM 9 !! (y)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: