Pendidikan Berbasis Spiritual

Assalamualaikum … Wr Wb

Dengan mencermati kehidupan saat ini, dengan tingkat kriminalitas yang semakin meningkat baik kualitas maupun kuantitas, gaya hidup konsumerisme dan hedonisme, sikap hidup ingin serba instan, meterialisme, dan lain-lain. Jika kecenderungan kehidupan seperti tersebut dibiarkan maka tidak mustahil cepat-lambat bangsa ini akan jauh tertinggal bahkan jatuh ke jurang kehancuran, … tentunya kita akan merasa prihatin.

Kehidupan kita saat ini adalah cerminan dari kondisi sebelumnya atau masa lalu. Dan kehidupan saat ini akan mewarnai kondisi kehidupan di masa depan. Pendidikan dan pembudayaan merupakan hal yang sangat penting dalam proses pemaknaan dan pewarnaan kehidupan manusia, baik pribadi maupun kelompok.

Keadaan kehidupan kita saat ini merupakan cerminan dari proses pendidikan yang dijalankan sebelumnya. Kita bisa melihat bagaimana bangsa-bangsa yang maju pada saat ini, mereka telah menginvestasikan pendidikan yang bermutu sebelumnya.

Penyelenggaraan pendidikan tidak bisa main-main, sambilan atau setengah hati, karena pendidikan seorang atau suatu bangsa akan sangat berperan bagi kemajuan kehidupan di masa yang akan datang. Saat ini kita masih belum puas dengan sistem dan model pendidikan ,yang tengah berjalan , yang dinilai masih parsial, apa adanya, belum maksimal, belum mampu menjawab tantangan jaman dan belum mampu membentuk esensi pendidikan, yaitu membangun dan membentuk peserta didik yang berkarakter unggul serta menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan spiritual.

Pendidikan kita saat ini hanya sibuk dengan pengembangan otak sebelah kiri, parisal, dan hanya melahirkan pribadi yang terpecah (split personality). Sejatinya pendidikan harus mampu membangun sumber daya insani yang utuh (holistik), terpadu (integrated), mampu mengembangkan dengan seimbang seluruh potensi yang dimiliki antara potensi akal, emosi, badan, dan rohani. Hasil pendidikan menunjukkan dari sekian potensi yang ada, potensi spiritual merupakan dasar dan inti kehidupan manusia. Seorang filosof bernama Tierde Cardin menyebutkan bahwa manusia bukanlah makhluk dunia yang mengalami kehidupan akhirat (spiritual). Namun manusia adalah makhluk spiritual yang mengalami kehidupan dunia. Ungkapan ini mengandung makna yang sangat dalam dan menarik untuk dicermati, bahwa dimensi spiritual pada manusia sangatlah penting (urgen) untuk diperhatikan.

Pendidikan berbasis spiritual

Kehidupan di dunia ini bukanlah tujuan tetapi hanyalah sementara, dan akan terus maju menuju alam keabadian alam akhirat. Konsep dan gagasan seperti itu penting untuk dipahamkan kepada siswa sehingga mampu memahami dan memaknai kehidupan dengan benar. Untuk itu , teori dan praktis pendidikan yang saat ini dijalankan harus berbasis dan berorientasi nilai-nilai spiritual. Dengan tidak menafikan perjuangan kehidupan di dunia ini, pendidikan berbasis spiritual merupakan ruh atau jiwanya dari keseluruhan proses pendidikan dan kehidupan siswa.

Pendidikan berbasis spiritual harus mampu menyentuh sisi paling dalam peserta didik yaitu hati atau qolbunya, sehingga peserta didik tahu dan sadar bahwa dirinya diciptakan Allah, lahir ke dunia dengan tugas ibadah, mampu hidup bersyukur, menyayangi sesama manusia dan makhluk lainnya karena Allah semata, taat dan rajin beribadah, peduli pada sesama, hormat pada orangtua maupun guru. Jika nilai-nilai spiritual tertanam di dalam lubuk sanubari para siswa, niscaya kehidupan anak akan senantiasa diwarnai dengan sikap positif, proaktif, produktif, progressif, partisipatif ,dan last but not least , memiliki sikap rendah hati , tawadhu serta taqwa .

Tahapan pendidikan spiritual

Untuk membangun model pendidikan dan pembelajaran berbasis spiritual, tahap-tahap yang harus diikuti meliputi :

  1. Pemaknaan pada tahap ini peserta didik sesuai dengan tingkat perkembangan usianya, harus mengetahui dan memahami tentang makna (arti) belajar dan pendidikan, mengapa belajar itu penting, untuk apa dan karena siapa. Pada tahap ini peran nilai-nilai karena tujuan pendidikan harus sejalan dan sejalin dengan tujuan hidup umat manusia. Anak harus paham bahwa sekolah atau pendidikan harus dimaknai dan niat ibadah kepada Sang Maha pencipta, Allah SWT.
  2. Membangun dan menanamkan motivasi yang kuat yang bersumber dari nilai-nilai spiritual tadi. Bahwa niatnya ibadah, tujuannya ridha Allah orientasinya pahala akhirat.
  3. Membangun sikap positif. Sikap dalam belajar dan hidup merupakan hal yang sangat penting. Sikap positif, optimisme, penuh syukur, sabar, tawakal niscaya akan membentuk pribadi atau karakter yang unggul, pantang menyerah.
  4. Mengembangkan kemampuan (skill), keterampilan dan hidup, baik yang bersifat umum atau khusus sangatlah penting. Setiap anak harus mampu memahami segala fenomena kehidupan dengan kecakapan yang dimilikinya, kecakapan berfikir, komunikasi, menggali informasi, hidup bersama dengan yang lain dan sebagainya.
  5. Membangun wawasan/ pengetahuan. Dengan semakin bertambah usia, bertambah pula wawasan dan pengetahuannya, sehingga semakin dalam pula pengenalan dan kecintaannya terhadap Sang Pencipta. Melalui pengatahuan yang terus berkembang diharapkan anak semakin paham dan sadar tentang fenomena kehidupan.
  6. Pembiasaan, pembudayaan atau latihan. Manusia adalah apa yang sering dilakukannya secara berulang-ulang. Pembiasaan atau pembudayaan sangatlah penting bagi manusia atau belajar. Hal-hal yang benar, baik, dan bagus harus dibiasakan dan dibudayakan sehingga lambat laun menjadi kepribadian atau karakter. Dalam agama yang namanya peribadahan dilaksanakan berulang-ulang – dibiasakan. Menurut Stephen R. Covey dalam bukunya “Tujuh Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif”, manusia dapat meraih keberhasilan dalam hidup dengan memiliki dan terus mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang efektif atau bagus.
  7. Prestasi atau performance. Hasil positif akan mendorong motivasi dan prestasi baru. Untuk meraih prestasi optimal peserta didik harus berawal dari pemaknaan yang benar. …

Sumber : Drs. Rustana Adhi (Litbang-SMP PGII 1 Bandung)

Dengan diterapkannya konsep spiritualisasi pendidikan atau pembelajaran. Integritas antara iman dan ilmu, akal dan agama, hati dan pikiran adalah salah satu model agar pendidikan secara efektif mampu membangun pribadi yang utuh. Integrasi ilmu pengetahuan, tekonologi (IPTEK) dan iman, taqwa (IMTAQ), adalah hal yang mutlak dan mendesak untuk diterapkan pada saat ini.

Melalui keterpaduan antara IPTEK dan IMTAQ diharapkan mampu melahirkan para remaja disamping pintar juga berkarakter, disamping sukses juga shaleh. Bagaimanakah memadukan antara kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan fisik (PQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).

Spiritualisasi pendidikan akan efektif jika seluruh pengampu berkepentingan pendidikan (stakeholders) sadar, yakin dan bekerjasama untuk memajukan model pendidikan yang utuh (holistik) dan terintegrasi. Pendidikan adalah proses yang sistemik, tidak mungkin keberhasilan pendidikan diraih maksimal, tanpa kerjasama dan keterlibatan semua pihak.

Membangun etika dan moral pelajar kita saat ini, merupakan hal yang sangat mendesak serta urgen dilaksanakan, jika tidak segera, maka bangsa Indonesia harus membayar harga sosial yang sangat mahal, berupa kehancuran dan kekacauan kehidupan bangsa di masa depan. Kekuatan sebuah bangsa adalah terletak pada bagaimana keadaan moralitas warga negaranya.

Semoga kita mampu membangun pribadi yang utuh. Integrasi ilmu pengetahuan, tekonologi (IPTEK) dan iman, taqwa (IMTAQ) …🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: