Kunci Kemajuan yang Terbuang

Assalamualaikum … Wr Wb

Dalam sebuah cerita rakyat, legenda, pewayangan atau cerita-cerita kepahlawanan (epos), yang tumbuh subur di zaman praliterasi, selalu ada dua jenis pusaka yang dijadikan bahan rebutan oleh para jawara atau dua kubu yang berhadap-hadapan. Pusaka tersebut kalau tidak berupa kitab atau buku, pasti berupa senjata. Ini adalah sebuah pesan historis yang kalau ditafsirkan bisa diartikan bahwa perubahan di dunia ini bisa terjadi oleh dua kekuatan yaitu kekuatan intelektual (yang disimbolkan dengan buku) dan yang kedua adalah kekuatan militer (yang disimbolkan dengan senjata). Perubahan akan berjalan serasi apabila ada sinergi di antara keduanya yaitu adanya sinergi atara kepintaran dan kekuatan. Orang pintar tanpa kekuatan akan lemah, dan orang kuat tanpa memiliki pengetahuan (hikmah) akan merusak.

Informasi adalah bebas nilai, sebagaimana juga senjata. Sangat tergantung kepada akhlak orang yang memegangnya. Tapi yang jelas informasi adalah sebuah kekuatan, atau meminjam istilah Francis Bacon ”knowledge is power” adalah sebuah kebenaran yang tidak bisa dibantah. Nabi Muhammad SAW. Bersabda: ” kalau ingin menguasai dunia dan akhirat milikilah ilmu.”

Literasi Informasi

Literasi informasi sendiri dapat diartikan kemampuan seseorang dalam mencari, mengkoleksi, mengevaluasi atau menginterprestasikan, menggunakan, dan mengkomunikasikan informasi dari berbagai sumber secara efektif. Keahlian ini seharusnya telah dimiliki oleh orang-orang yang terbiasa dengan dunia tulis-menulis atau pendidikan yang dimulai semenjak di bangku SMP.Akan tetapi disitulah letak masalahnya, jangankan murid SMP mahasiswa pun banyak yang belum memiliki keahlian ini. Padalah tujuan utama dari pendidikan sendiri adalah bagaimana supaya manusia pandai memberdayakan informasi. Untuk dapat dikatakan bahwa seseorang telah melek informasi (information literate) paling tidak harus memiliki kemampuan: …

  • menentukan cakupan informasi yang diperlukan
  • mengakses informasi secara efektif
  • mengevaluasi informasi dan sumber-sumbernya dengan kritis
  • menggunakan informasi sesuai dengan tujuan

Jelas bahwa dalam dunia pendidikan kemampuan literasi informasi merupakan yang sangat esensial harus dimiliki oleh setiap peserta didik. Sering kita mendengar pribahasa yang mengatakan ” jangan beri ikan, berilah pancingnya”. Kemampuan literasi informasi adalah ”pancing” bagi sang murid supaya ia dapat belajar mandiri (students’ freedom to learn). Peserta didik akan diajarkan pada sebuah metode untuk menelusuri informasi dari berbagai sumber informasi yang terus berkembang. Karena tidak akan ada seorang pun pada zaman sekarang ini yang mampu untuk mengikuti semua informasi yang ada.

Oleh karenanya, literasi informasi adalah merupakan sebuah bekal yang sangat berharga untuk tercapainya pembelajaran seumur hidup. Mengingat juga, bahwa sekarang ini kita sedang memasuki era informasi atau ”gelombang ketiga” dalam peradaban manusia menurut Alvin Toffler. Di mana informasi menjadi komoditas yang setiap hari diperebutkan dalam pentas pertarungan global ini. Siapa yang dapat menguasai informasi dialah yang akan bertahan hidup, dan kuncinya adalah literasi informasi. Literasi informasi adalah sebuah keniscayaan zaman.

Landasan yang kokoh untuk menuju melek informasi (information literate) adalah budaya baca masyarakat. Dan budaya baca akan terbentuk manakala minat baca di masyarakat telah tumbuh dan berkembang. Melihat kenyataan Indonesia dalam masalah minat baca mengingatkan kita pada perkataan Soekano, ”menjadi koeli bangsa asing di negeri sendiri,” bahkan mungkin mengingatkan kita sebuah kisah perbudakan bahkan kematian bangsa yang diakibatkan oleh kebodohan rakyatnya

Salah satu jawaban atas kemelut kemiskinan atau keterbelakangan yang terjadi di negeri ini tidak lain adalah: minat baca. Maka kita dapat melihat bahwa jarak minat baca berbanding lurus dengan jarak kemajuan sebuah bangsa. Bahkan dapat dikatakan bahwa kunci utama untuk keluar dari kemiskinan dan menuju menjadi bangsa yang makmur adalah dengan membangkitkan minat baca masyarakat. Akar kemiskinan, yang menerpa sebagian rakyat Indonesia, adalah karena masih tingginya tingkat melek aksara dan sangat payahnya minat baca sebagian besar masyarakat. Kita tidak akan menemukan sebuah kenyataan di belahan bumi manapun ada orang berilmu dan luas pengetahuannya tapi hidupnya miskin, kecuali atas dasar pilihan hidup.

Sumber : Masyarakat Literasi Indonesia

Semoga literasi informasi dapat dimiliki oleh kita … dimulai oleh guru tentunya yang memberi suri tauladan kepada muridnya …:)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: