Esensi pendidikan

Assalamualaikum … Wr Wb

Faktor penyebab rendahnya mutu pendidikan ternyata sangat beragam. Yang menjadi ukuran mutu pendidikan ini adalah kualitas para lulusannya, terutama berkaitan dengan masalah pengangguran lulusan lembaga pendidikan. Saya kurang setuju dengan istilah “pengangguran intelektual”, karena orang intelek tidak mungkin menganggur.

Kita boleh tidak sepakat tentang apa sebenarnya esensi pendidikan, akan tetapi dalam perspektif keperpustakaan esensi pendidikan adalah membaca, dalam arti sebuah proses pendidikan dikatakan berhasil apabila menciptakan murid-murid yang rajin membaca. Apabila sebuah lembaga pendidikan tidak menganggap penting masalah minat dan kegemaran membaca, bisa dipastikan akan mengalami kegagalan. Sebuah pepatah yang sering kita dengar akan tetapi sering pula diingkari adalah “buku gudang ilmu dan membaca adalah kunci.” . Sekarang ini banyak lembaga pendidikan yang kehilangan “kunci’ tersebut, dan konsekuensinya adalah banyak alumninya yang tidak berilmu. Dalam istilah sunda disebut dengan “cul dog-dog tinggal igel”, artinya untuk menggambarkan sebuah perbuatan atau proses yang kehilangan esensi, hanya formalitas belaka. Penulis memiliki sebuah “formula pendidikan” sederhana seperti berikut: Sekolah-gemar membaca = bermasalah (dibaca, bersekolah akan tetapi tidak memiliki kegemaran membaca akan menghasilkan lulusan yang bermasalah; gemar membaca + (-sekolah) = berhasil; (-sekolah) + (-gemar membaca) =gagal; Sekolah + gemar membaca = sukses

Sekolah – gemar membaca = masalah

Seorang anak yang sekolah akan tetapi tidak memiliki kegemaran membaca ia akan menemui berbagai kesulitan atau akan banyak membuat kesulitan bagi orang lain. Menurut Witdarmono, dalam artikelnya “Membaca dan Agresivitas” (Kompas, 8 September 2006) mengutip sebuah hasil penelitian yang dimuat dalam majalah Child Development membuktikan bahwa ada korelasi antara kegemaran membaca dengan agresivitas siswa. Anak-anak yang memiliki kemampuan membaca rendah cenderung memiliki tingkat agresivitas tinggi. Sebaliknya, ada keterkaitan antara sikap sosial dan kemampuan membaca. Yang dimaksud sikap sosial adalah suka menolong, empati, dan punya perhatian kepada yang susah. Ini bisa dijadikan sebuah acuan bahwa untuk mentiadakan konflik (tawuran) antar siswa atau mahasiswa bisa dengan kampanye minat baca disekolah atau perguruan tinggi.

Selain itu, dapat dipastikan bahwa seorang anak yang lulus sekolah atau perguruan tinggi tanpa memiliki kegemaran membaca akan susah mencari peluang, karena tidak memiliki pengetahuan yang cukup. Penulis berani mengatakan bahwa para pengangguran lulusan lembaga pendidikan adalah mereka yang tidak memiliki kegemaran membaca yang baik.

Gemar membaca – sekolah = bisa berhasil

Sebaliknya dari kasus di atas, apabila seseorang yang tidak sekolah akan tetapi memiliki kegemaran membaca kemungkinan besar dia akan berhasil. Terlalu banyak contoh yang dapat di ambil dari tokoh-tokoh sejarah yang sukses tanpa sekolah. Mulai dari tokoh internasional maupun dari Indonesia. Para pecinta novel detektif mungkin akan kenal dengan Agatha Cristie. Dalam riwayat kepengarangannya dia telah menghasilkan hampir satu miliar novel dan apabila ditumpuk akan menyamai gunung Everest , padalah dia tidak pernah sekolah. Michael Faraday adalah seorang anak yang terusir dari sekolahnya gara-gara tidak bisa menyebut huruf “r” dan kemudian dididik membaca oleh ibunya, berhasil menjadi ilmuwan yang terkenal sepanjang masa. Ahmad Deedat, seorang kristolog dan ahli debat kelas dunia telah menulis 25 judul buku adalah seorang yang sekolahnya hanya sampai kelas sembilan, dan masih banyak lagi, Oprah, Newton, dll. Di tanah air juga kita kenal dengan beberapa budayawan yang bermasalah dengan sekolahnya, di antaranya adalah Ajip Rosidi dan Emha Aiun Nadjib. Kang Ajib sekolahnya hanya sampai SMA, yang ijazahnya tidak pernah diambil, tapi bisa berprofesi sebagai pengajar di Jepang bertahun-tahun (lihat otobiografinya Hidup Tanpa Ijazah), sedangkan Cak Nun tidak betah dengan kultur sekolah akan tetapi menjadi seorang budayawan yang sangat produktif menulis, serta dijuluki oleh teman-temannnya sebagai “perpustakaan berjalan”. (lihat buku Jalan Sunyi Emha karya Ian L. Betts).

Sumber : Perpustakaan Sebagai Jantung Sekolah kar (Suherman) Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Jawa Barat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: