Renungan di Hari Raya Idul Adha

Assalamualaikum …WrWb.

Jiwa Yang Bersih

Jiwa Yang Bersih

Berawal dari perbincangan ringan … “Di dalam diriku ada Dzat yang membuatku hidup… Dzat yang sama dengan Dzat dari mana semua insan berasal. Lalu jika Dzat Tuhan ini ada di dalam diriku, maka seharusnya aku dapat berkomunikasi & belajar langsung dari-Nya”, demikian kata-kata yang sempat terucap … “Jika Dia memang ada besertaku, maka seharusnya aku pun memiliki sifat-sifat dari kualitas Ilahi, yang dapat tercermin di dalam kehidupanku”.

Sebuah kata-kata bijak dari Guruku “Jika kita hendak menyapu – membersihkan rumah – bagian yang mana yang kita cari… yang bersih ataukah bagian rumah yang kotor?”. “Banyak dari kita tertipu, ingin mencapai kebersihan dengan mencari kotoran di tempat yang bersih… bukankah lebih mudah bila kita membersihkan rumah kita jika telah menemukan bagian rumah yang kotor?”.

Apakah kotoran-kotoran ini di dalam kehidupan kita?
Seringkali kita tidak menyadari bahwa kita merasa nyaman hidup di tengah-tengah kotoran kehidupan ini… dendam, benci, khawatir, takut, dengki, sombong, ingin diakui… dan banyak kotoran lain yang kita kumpulkan di tengah-tengah peristiwa kehidupan yang kita jalani.

Seringkali disaat kita berhadapan dengan seseorang yang mengundang kebencian, lalu kita menuntut orang tersebut untuk merubah dirinya agar memberikan kenyamanan bagi diri kita maupun orang lain. Padahal bukankah mereka dihadirkan di hadapan kita untuk memberi sinyal bahwa masih ada kotoran kebencian di dalam diri kita?

Bukankah segala rasa yang kita alami di dalam keseharian ini adalah sebuah pantulan dari cermin kehidupan kita sendiri?

Bukankah di dalam setiap diri yang hadir – dalam bentuk kebencian maupun kasih sayang – di dalam kehidupan kita pun terdapat Dzat yang sama dengan apa yag ada di dalam diri kita?
Bukankah Cinta & kasih sayang yang tak terbatas telah ada di dalam diri sejak awal kehidupan kita & tak perlu menunggu orang lain untuk berubah, agar kita dapat memberikannya kepada mereka?
Bukankan sepatutnya kita bersyukur bahwa Tuhan sedang berkomunikasi & memberikan sebuah petunjuk tentang sebuah kekotoran yang telah begitu lama kita cari-cari di dalam rumah kita serta bagaimana cara membersihkannya?

Maha Suci Engkau, ya Tuhan…

Engkau hanya menerima kesucian & tak dapat terkotori oleh segala sesuatu selain kesucian itu sendiri… selain Dzat-Mu sendiri …

Bimbinglah kami untuk dapat menemukan kotoran-kotoran yang masih ada di dalam “rumah” kami…kuatkan hati kami untuk dapat menerima kenyataan bahwa masih ada kekotoran-kekotoran di dalam diri ini, serta bantu kami agar dapat membersihkannya… agar kami dapat menyatu kembali bersama-Mu … Amien.

Menjadi sosok apapun kita, jadilah yg terbaik, jangan pernah pedulikan balasan yg kita terima dari sesama insan …, bukankah kita berusaha menjadi baik karena Allah SWT, untuk Allah SWT dan bukan untuk siapapun selain-Nya, karena Dia tak akan pernah buat kita kecewa dan merana, bersama-Nya kita selalu damai, walau kadang terasa gersang di sekeliling kita …karena, bersama-Nya hati kita selalu damai, walau terasa gersang disekitar kita

Sumber : Catatan Deddy Hidayat

Raya Idul Adha adalah hari dimana kita melaksanakan ibadah qurban bagi yang mampu, selain bersedekah sesuai kemampuan kita berkurban paling sederhana juga dengan sikap memiliki rasa sabar dan ikhlas yg sangat tulus … atas nama ALLAH SWT.

Seperti temanku bilang “berbuat baik dari hal yang kecil,bahkan dalam sebuah hadits menganjurkan bersedekah dalam keadaan sulit meski hanya separuh butir kurma…” (Ibnu Ghozi)

Ketika kita melaksanakan berbagai kegiatan sering kita dihadapkan oleh berbagai masalah yang kadang menghimpit dan kita tak tahu bagaimana jalan keluarnya …

Seperti kakakku bilang “Jika tangan kirimu tak mampu maka mintalah bantuan pada kananmu … dan jika kedua tanganmu tak mampu maka mintalah bantuan pada orang lain … yang punya tangan dan mau mengulurkan tangannya pada kita … (Hendro Sukirno)

Sahabat tak ternilai harganya dibandingkan emas permata … Terima kasih … Temanku, Sahabat yang tidak pernah membiarkanku berjalan sendiri ketika bersedih, meski dia nun jauh di sana namun kami selalu memantau suasana hati lewat hati, dan dia melintas saat sedih dan sendiri, saat bahagia pantang datang. Dan saya……. ?,menyapa dan menjadi tissue penghapus airmata ketika ia sedih, saya tahu dimana harus berdiri …

“Ya ALLAH berilah saya hati yang jernih, agar saya selalu bersyukur atas yang sedikit yang saya miliki, agar saya merasa berkecukupan ditengah kekurangan, ajari saya ridho dan ikhlas ya ALLAH agar saya tidak mengeluh ketika kebahagian saya tak lagi sempurna…”

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Hueeebbbaatttttttttttt, PKS SIMku “LANJUTKAN”!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: