Sekilas Tentang Keterlambatan Kenaikan Pangkat Gol.IV.A ke IV.B

Assalamualaikum … Wr Wb

Oleh : Drs. Nurudin, M.M

Guru di dalam struktur PNS termasuk dalam jabatan fungsional tertentu, sebagaimana tercantum dalam peraturan pemerintah No.99 tahun 2004, bahwa ; Jabatan fungsional tertentu adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak seorang pegawai negeri sipil dalam suatu satuan organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan kepada keahlian dan atau keterampilan tertentu serta bersifat mandiri dan untuk kenaikan pangkatnya diisyaratkan dengan angka kredit.

Guru sebagai salah satu bagian dari PNS dituntut untuk lebih profesional sejalan dengan tuntutan akan kapasitas mereka untuk menjadi manajer kelas yang baik, juga melaksanakan tugas manajemen atau administrasi kelas. Kemampuan guru dalam mengelola kelas ini merupakan salah satu ukuran kemampuan profesional  seorang guru.

Pemerintahpun melalui Surat Keputusan Menpan No.26/1989, tanggal 2 Mei 1989 telah menetapkan dan mengakui bahwa guru adalah jabatan profesional. Berdasarkan SK ini pengembangan karir keguruan  dimungkinkan dengan fungsionalisasi jabatan guru sebagai jabatan profesional, suatu jabatan yang jenjang kenaikan pangkatnya ditentukan oleh kemampuan melaksanakan fungsi profesional sebagai guru.

Untuk meningkatkan mutu profesionalisme dan pembinaan karir pegawai negeri sipil khususnya guru, diperlukan perangkat penilaian yang dituangkan dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor : 025/0/1995, tentang : Petunjuk Teknis Ketentuan Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya…

Kenaikan pangkat adalah penghargaan yang diberikan atas prestasi kerja dan pengabdian Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan terhadap Negara. Selain itu, kenaikan pangkat juga dimaksudkan sebagai dorongan kepada Pegawai Negeri Sipil untuk lebih meningkatkan prestasi kerja dan pengabdiannya.(PP No.99 Tahun 2000)

Hampir 70 persen guru gagal dalam proses kenaikan pangkat dan tertahan digolongan IV.A. Mayoritas kegagalan tersebut karena terkendala dalam pembuatan karya tulis ilmiah yang menjadi syarat kenaikan pangkat ( PR. 31/10/08). Menyikapi sinyalemen tersebut hendaknya setiap guru harus rajin dan teliti meminta/mengumpulkan, menyimpan bukti prestasi kerja yang diberi angka kredit, utamanya melaksanakan pengembangan profesi yang menjadi syarat utama dalam kenaikan pangkat dari IV.A ke IV.B atau ke pangkat yang lebih tinggi. Salah satu bukti pengembangan profesi yang dilaksanakan oleh guru adalah pembuatan karya tulis ilmiah.

Karya tulis ilmiah dikelompokkan menjadi ; laporan hasil kegiatan ilmiah, tulisan ilmiah dan  buku. Diantara karya tulis ilmiah yang sedang dikembangkan oleh guru pada saat ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Karya tulis ilmiah pada dasarnya adalah hasil kegiatan penelitian yang disajikan dalam bentuk tulisan yang cermat, tepat, benar, menggunakan sistematika yang umum dan jelas dan bersifat obyektif.

Permasalahan kenaikan pangkat dengan menyertakan karya tulis ilmiah ini terjadi di Kota Cimahi mungkin juga terjadi di Kabupaten/Kota lain. Untuk di Cimahi dimana banyak guru-guru yang sudah 4 tahun bahkan lebih dari 4 tahun, dan masih aktif mengajar bahkan masih lama dalam masa pensiunnya, mereka seharusnya sudah naik pangkat sesuai nilai dan tenggang waktu kenaikan pangkat yang telah ditentukan terlambat gara-gara unsur kegiatan pengembangan profesi yang salah satu kegiatannya adalah pembuatan karya tulis ilmiah.

Berdasarkan penelitian penulis yang dilaksanakan di Cimahi pada tahun 2006 kepada guru-guru SD, SMP, SMA dan SMK yang belum naik pangkat dari IV.A ke IV.B lebih dari 4 tahun sebanyak 358 guru, tentang” Analisis Pengaruh Pengembangan Profesi, Kemampuan Individu dan Latar Belakang Pendidikan Terhadap Keterlambatan Kenaikan Pangkat Guru Dari Golongan IV.A ke Golongan IV.B  Di Kota Cimahi” didapat beberapa kesimpulan antara lain :

  1. Terdapat hubungan yang signifikan antara : Variabel pengembangan profesi  dengan variabel kemampuan individu, Variabel pengembangan profesi dengan variabel latar belakang pendidikan dan Variabel kemampuan individu  dengan variabel latar belakang pendidikan
  2. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara pengembangan profesi, kemampuan individu, dan latar belakang pendidikan terhadap keterlambatan kenaikan pangkat dari golongan IV.A ke golongan IV.B.

Informasi ini memberikan keterangan bahwa untuk kenaikan pangkat bagi tenaga fungsional  (guru) sebenarnya sudah terpenuhi syarat-syarat untuk kenaikan pangkat, apabila yang bersangkutan melaksanakan tugas dan kewajibannya secara benar. Juga ini mengandung arti bahwa variabel-variabel yang diteliti sebenarnya telah terpenuhi oleh setiap guru, dalam artian bahwa kegiatan pengembangan profesi, kemampuan individu dan latar belakang pendidikan mendukung atau sudah seharusnya dimiliki oleh setiap guru. Sehingga tidak ada kata terlambat untuk kenaikan pangkat ke golongan yang lebih tinggi apabila tugas dan kewajibannya dilaksanakan secara profesional.

Jadi dilihat dari kemampuan individu yang rata-rata sudah mengajar lebih dari 15 tahun, dan latar belakang pendidikan yang sudah A.4/S.1 (apalagi dikaitkan dengan syarat sertifikasi guru),  sudah seharusnya para guru-guru tersebut dapat mengembangkan kegiatan- kegiatan pengembangan profesinya, berupa penelitian yang ditulis dalam bentuk karya tulis ilmiah. Kendala yang paling berat dihadapi oleh guru-guru adalah rasa malas yang berlebihan dengan berbagai macam alasan.

Untuk itu, berdasarkan hasil penelitian dan temuan di lapangan penulis  mengemukakan saran-saran sebagai berikut :

1.  Pemerintah dalam hal ini Dinas Pendidikan baik di tingkat pusat atau   di tingkat daerah harus mensosialisasikan kepada guru-guru lebih intens, khususnya yang sudah bergolongan IV.A tentang kegiatan-kegiatan penelitian secara sederhana  agar guru-guru tersebut terbiasa melakukannya.

2,  Hendaknya Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota membuat suatu lembaga independen, yang berisi para profesional dibidang pendidikan dengan fungsi menampung beberapa permasalahan dunia pendidikan, mengelola SDM yang ada, mengembangkan, merancang, serta mengevaluasi hasil-hasil yang didapat.

3.  Kepala Sekolah sebagai atasan langsung guru tidak kaku dalam menyikapi guru yang akan naik pangkat seandainya kepala sekolah pangkat dan golongannya terlampaui oleh guru.

4.  MGMP di sekolah diberdayakan dengan berbagai penelitian yang diadakan per-mata pelajaran (PTK), untuk kemudian ditulis dengan melibatkan guru-guru Mata Pelajaran tersebut

5. Pelatihan-pelatihan bagi guru-guru perlu diperbanyak intensitasnya, utamanya yang berbentuk penelitian-penelitian, dengan mediator dari Dinas Pendidikan baik tingkat nasional, tingkat  propinsi ataupun tingkat kota/kabupaten.

Tentang Penulis :

Drs. Nurudin, M.M adalah :

-          Guru SMPN 9 Cimahi

-          Tim Penilai Angka Kredit Jawa Barat

-          Alumni P.P.S STIE Pasundan Bandung

Semoga bermanfaat … :)

About these ads

3 Tanggapan

  1. Good day!This was a really superb Topics!
    I come from milan, I was luck to find your topic in yahoo
    Also I get a lot in your theme really thanks very much i will come later

  2. kapan akan dilaksanakan penilaian usulan kenaikan pangkat ke IVb 2011 ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: