PGRI

Assalamualaikum …WrWb.

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) itu dibentuk bertujuan untuk mempersatukan dan melindungi guru serta memikirkan bagaimana mensejahterakan para penyandang gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, agar mereka bisa mengajar dengan tenang, nyaman dan baik. Karena masih banyak guru yang terpaksa harus bekerja keras, banting tulang, mencari objekan lain diluar profesi guru, semata untuk bisa hidup layak seperti profesi lainnya.

Banyak cerita pilu tentang guru yang harus ngojek, jadi makelar, buka les privat, sambil ngajar di sana sini. Belum lagi nanti jika banyak murid yang terpaksa tidak naik kelas maupun tidak lulus ujian nasional, guru menjadi sasaran sumpah serapah dari berbagai pihak

Sekelumit  gambaran tentang guru di atas, hendaknya bisa menjadikan salah satu bahan renungan dalam rangka memperingati hari jadi PGRI tahun 2009. Sudah banyak peran dan upaya PGRI untuk mencarikan solusi berbagai masalah internal guru, termasuk saat ini sedang gigih memperjuangkan perbaikan tunjangan profesi dan mendesak pemerintah untuk segera mengangkat guru honorer dan sejenisnya menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Pemerintah pun tidak tinggal diam melihat nasib guru yang sedikit banyak berdampak pada mutu pendidikan, salah satunya adalah dengan mengadakan program sertifikasi guru serta mengadakan uji kompetensi guru yang mengajar mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional. Dimana, tujuan program ini adalah sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan guru, guna meningkatkan kualitas pendidikan. Konon, guru akan mendapatkan tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok apabila yang bersangkutan lolos dalam program sertifikasi, yang meliputi kemampuan akademik, kompetensi mengajar dan syarat lain yang harus dipenuhi.

Dengan kata lain, pelaksanaan sertifikasi guru memberikan harapan akan terwujudnya guru yang bermutu dalam mengimplementasikan tujuan pendidikan nasional melalui proses belajar mengajar di dalam kelas. Hal ini mengingat peningkatan kesejahteraan memungkinkan guru dapat menekuni profesi dan meningkatkan kinerjanya. Seperti diketahui bahwa, kinerja guru merupakan faktor determinan yang sangat menentukan keberhasilan penyelenggaraan pendidikan, oleh karena itu peningkatan kualifikasi pendidikan dan profesionalisme guru menjadi sangat penting.

Pelaksanaan sertifikasi ini dilakukan secara bertahap dengan melibatkan perguruan tinggi yang ditunjuk sebagai asesor. Sayangnya, untuk tahap pertama pelaksanaan sertifikasi, masih banyak peserta yang terpaksa berjatuhan, tidak lolos seleksi untuk mendapatkan sertifikat guru professional. Salah satu penyebabnya adalah peserta sertifikasi ‘kerepotan’ dalam mengumpulkan dan mencari pengesahan berbagai berkas yang akan dinilai, sebagian besar peserta juga lupa mencantumkan atau tidak memiliki tanda penghargaan yang berupa bukti fisik karya pengembangan profesi sesuai dengan klasifikasi yang ditentukan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 18 tahun 2007, tentang sertifikasi guru dalam jabatan.

Peran apa yang bisa dimainkan oleh PGRI dalam program sertifikasi ini ?. Paling tidak PGRI melakukan pemantauan serta mendorong panitia dan asesor dalam hal keterbukaan informasi bagi khalayak sebagai upaya meniadakan praktek jual beli daftar nominasi sertifikasi bagi semua guru. Ya, PGRI harus mengawal agar tujuan mulia program sertifikasi ini tidak dinodai oleh kebiasaan kongkalikong antara guru, kepala sekolah dan pejabat dinas pendidikan.

Disamping itu, tidak ada salahnya jika PGRI gencar melakukan sosialisasi masalah sertifikasi ini kepada guru agar pada periode berikutnya guru lebih siap menyusun berkas-berkas yang diperlukan dalam penilaian oleh asesor.

Seiring usianya yang sudah ‘matang’ dan semangat reformasi, sudah waktunyalah PGRI lebih mendekatkan diri kepada anggotanya, lebih membuka diri, memberikan kesempatan kepada guru untuk menyuarakan keluh kesahnya melalui acara temu akrab antara pengurus dengan anggotanya, sehingga persoalan-persoalan yang terkait dengan keterlambatan gaji, potongan rapelan, pengumpulan angka kredit, seleksi calon kepala sekolah dan lainnya, hendaknya PGRI bisa berperan sebagai katalisator yang bijaksana dalam rangka mencapai win-win solution bagi semua pihak.

Apalagi banyak pengurus PGRI yang memiliki akses dengan “senayan” sehingga bisa mengusulkan saran kebijakan untuk mempercepat pelaksanaan UU Nomor 15 tahun 2005 tentang guru dan dosen, dimana di dalamnya ada semangat yang menjanjikan profesionalisme dan penghargaan terhadap profesi guru dan dosen.

Yang harus diingat, sekarang ini PGRI bukanlah satu-satunya organisasi yang mewadahi profesi guru, karena di era keterbukaan ini telah banyak muncul berbagai asosiasi, forum, aliansi dan sejenisnya yang menyuarakan nasib guru lebih lantang dari pada PGRI.

Yang jelas, di dalam memperingati hari jadinya, perlu ada terobosan program yang kreatif agar image PGRI yang identik dengan iuran dan aneka potongan bagi anggotanya itu bisa berubah. Inilah pekerjaan rumah yang mendesak untuk dikerjakan.

Selamat ulang tahun PGRI. Ditanganmulah nasib guru dititipkan.

Sumber : Forum MPA Jonggringsalaka

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: